Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teruntuk ibu kami, di rumah dan di sini

 


Sebelum matahari mulai bangun, kau telah membuka mata mendahului kami yang masih nyenyak di balik selimut tebal yang kau siapkan. Kau awali hari dengan menyapa Tuhan, meminta perlindungan untuk kami tanpa kami minta. Menyerahkan beban memenuhi panggilan cinta-Nya. Menceritakan segala hal yang tak dapat kau ceritakan pada makhluk-Nya. Dalam keheningan, semua beban kau serahkan dan mengeluarkan emosi dalam balutan kain panjang. 

Kau cukupkan ceritamu, padahal belum semuanya kau adukan pada-Nya. Namun demi kami, kau beranjak tuk menyiapkan apa yang kami perlukan seharian. 

Kala kami kecil, dengan lembutnya kau mengangkat kami dari tempat tidur. Menuntun kami membersihkan diri dengan sikap lembut khasmu. Suapan demi suapan kau berikan kala kami merajuk. Tanpa paksaan, hingga kami menghabiskannya. Kau kenakan pakaian kami dengan penuh kesabaran. Seluruh sudut rumah yang barantakan karena asyiknya kami bermain di rumah kau bereskan kembali, tanpa dendam terselip dalam kalbu. Pakaian berlumpur kami tak segan kau cuci. Pelukan tak kau lepas meski tubuh kami bercucuran peluh sisa bermain di lapangan. Kau antar kami ke madrasah sebagai tanggung jawabmu membekali kami ilmu agama. Walau kami merajuk tak mau berangkat akalmu lebih panjang hingga kami berhenti merajuk. Dalam lelahnya kau melewati harimu, kau rela meluruskan badan paling akhir memastikan kami telah terlelap.

Kenangan yang kini menghiasi benak kami di koordinat yang tak lagi sama denganmu. Belasan tahun silam, kami masih senang dalam dekapanmu, tanpa ancaman, tak gentar tuk melangkah maju. Namun, kami sudah beranjak dari masa itu. Kini kami tengah mengusahakan sekuat kami, mengusahakan apapun yang tangan kami bisa gapai, mengusahakan lantunan kata yang kau layangkan ke langit. Sekuat kami berjalan di sini, sekuat hati kami bertahan, sekuat tangan kami mengayunkan pena, sekuat raga kami terbentur pagar kuasa-Nya, sekuat jiwa kami bertahan.

Kami hanya insan pembelajar yang entah sampai kapan Tuhan akan membuka hati kami untuk menerimanya. Sejauh ini, kami masih diliputi monster, musuh, terbesar kami. Yang senantiasa mengikuti dan belum bisa kami kalahkan. Pengkhianatan pun tak lepas dari diri kami. Namun, baiknya Tuhan, mengembalikan kami kembali di sini. Baiknya Tuhan, tak ingin engkau kecewa karena kami. Meskipun, tanpa kau berucap, kami tau ada harap yang kau selipkan dalam nadi kami. 

Sejuah ini, kami tak bisa lepas darimu. Kami yang selalu merepotkanmu, namun kau paham dan senantiasa meluaskan hati untuk menghadapi kami dan memberikan tempat pulang yang nyaman. Marahmu tanda cintamu pada kami. Diammu tanda kau ingin kami belajar. Senyummu tak bisa kami tafsirkan. Tangismu yang selalu kau sembunyikan demi kami. Berjuta rasa yang hanya bisa kau rasakan.

Doakan kami di sini. Doakan kami agar senantiasa diberkahi Tuhan. 

Tuhan, beri kami kesempatan untuk melayaninya, ibu kami, layaknya raja. Kuatkan kaki kami, hati kami, jiwa kami, raga kami, kuatkan kami, Tuhan. Demi bintang yang akan kami persembahkan pada malaikat dunia kami. Terlalu banyak kekecewaan yang telah kami persembahkan. Kini, kami ingin menguranginya, mengusahakan semampu kami. Kami tak ingin pulang dengan tangan kosong. Kami ingin melayaninya layaknya raja.

Hanya maaf dan terima kasih yang pantas terucap oleh kami.

Maafkan kami yang tak pernah bisa membalas jasamu.

Terima kasih atas apa yang telah dan akan kau persembahkan pada kami.


Selamat hari ibu, untuk ibu kami di rumah dan ibu kami di sini



Posting Komentar untuk "Teruntuk ibu kami, di rumah dan di sini"