ffffff
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
banner here

PORTOFOLIO NIMEDIA CREATIVE

Tipe Santri dalam Meromantisasi Bulan Ramadhan

 

foto: santri mengaji pasaran atau kilatan ramadhan (sumber: Nurul Iman Media)

Tidak terasa sekarang kita sudah berada di 10 hari kedua di bulan Ramadhan. Padahal sepertinya baru kemarin kita berbahagia akan kedatangan bulan Ramadhan. Ramadhan menjadi momentum istimewa bagi kita, apalagi seorang santri. Seperti keterangan yang ada pada kitab Durotun Nasihin bahwa barang siapa merasa senang akan datang bulan ramadhan maka Allah haramkan jasadnya dari neraka. Bayangin, itu baru merasa senang akan datangnya bulan Ramadhan lho, belum ibadah puasanya. Masyaallah sekali ya?

Bagi santri ibadah puasa tidak hanya dengan menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga harus meningkatkan kualitas ibadah lainnya. Seperti tadarus Al-Qur’an, sholat malam dan ngaji kilatan atau kerap dikenal dengan sebutan 'Ngaji Pasaran'.

Ngaji pasaran atau ngaji kilatan adalah salah satu yang menjadi ciri khas Ramadhan di pesantren. Apa itu ngaji kilatan? Jadi ngaji kilatan itu salah satu bentuk pembelajaran kitab kuning yang dilakukan secara cepat dan intensif. Kiai membacakan kitab kuningnya dan santri mendengarkan sambil menuliskan makna di kitab masing-masing. Atau biasanya disebut dengan metode bandongan.

Di setiap pesantren memiliki target mengkhatamkan kitab yang berbeda-beda. Ada yang targetnya bisa khatam beberapa kitab dan ada juga yang hanya mengkhatamkan satu kitab. Seperti di pondok pesantren Nurul Iman Purwokerto, di sini kita ditargetkan mengkhatamkan beberapa kitab seperti kitab Riyadush Sholihin, Nasoihul ‘Ibad, dan Al-Barzanji.

Para santri selalu excited menjalankan rutinitasnya di pesantren. Terutama pada saat ngaji kilatan. Namun, tidak heran juga, ada lho santri yang hanya tertidur pada saat ngaji kilatan. Berikut ini tipe-tipe santri pada saat ngaji kilatan :

Pertama,tipe santri yang akan kita bahas ini adalah santri yang paling rajin. Mereka sudah mulai bersiap sebelum waktu ngaji kilatan dimulai. Berpakaian rapi dan wangi dengan kitab di tangannya. Tidak lupa dengan pulpen favoritnya, Hi-Tec C. Pada saat mengaji tipe santri ini selalu mendengarkan penjelasan kiai dengan seksama. Membuat catatan kecil dari penjelasan kiai. Dan tidak usah diragukan lagi, pasti maknaan di kitabnya terisi penuh.

Kedua, santri yang excited berangkat ngaji kilatan supaya bisa dapet jajan jaburan paling banyak. Bilangnya si biar ga ngantuk tapi waktu ngajinya dimulai biasanya langsung healing ke Belanda, alias tidur dengan enaknya. Kalo di pondok Nurul Iman, jaburan itu semacam takjil yang disediakan untuk santri-santri. Jaburan kadang dibagikan di awal sebelum ngaji, kadang juga di pertengahan ngaji. Nah, santri tipe kedua ini biasanya langsung tertidur sesaat setelah kiai mulai membaca kitab. Tapi tiba saat jaburannya datang langsung melek, sadar sepenuhnya. Kitabnya ya sudah dipastikan banyak yang kosong.

Ketiga, santri yang datangnya sering telat tapi tetap pede duduk di barisan paling depan. Waktu berangkat ngaji santri tipe ini semangat banget, tidak terlalu memedulikan bahwa dia sudah berangkat terlambat. Setelah datang, langsung mengikuti pembelajaran dengan tenang. Lumayanlah kitabnya cuma kosong dikit.

Keempat, santri pejuang kantuk. Berangkatnya semangat banget, semuanya sudah disiapkan dengan lengkap. Dari pulpen, kitab, buku catatan sudah dibawa semua. Awalnya bisa menyimak dengan seksama. Tapi, beberapa menit kemudian sudah tertidur nyenyak. Entah karena penjelasannya yang terdengar sangat merdu atau memang sedang merasa capek, santri pejuang kantuk ini baru bisa bangun setelah mendengar kiai mengucapkan wallahu a’lam bi showab. Ajaib tapi ini bukan sihir. Di saat kiai sedang menjelaskan dia tidak mendengar apapun tapi ketika ngajinya sudah selesai dia bisa bangun dengan sendirinya tanpa harus ada yang membangunkan.

Itulah beberapa tipe santri ketika sedang ngaji kilatan. Mau jadi yang ngantukan atau yang rajin, intinya kita berangkat ngaji. Sejalan dengan dawuh abah bahwa santri yang berangkat ngaji tapi tidur di kelas itu masih mendapatkan keutamaanya orang yang mengaji atau berkahnya mengaji. Daripada santri yang tidur di kamar, tidak dapat berkahnya tempat mengaji. Kalo kalian jadi santri termasuk tipe yang mana nih?

 So, mari meromantisasikan bulan suci ini sebaik mungkin. Jangan sampai menyesal karena kurang memanfaatkan kemuliaan dari bulan Ramadhan ini. Semoga kita termasuk santri-santri yang mendapatkan keberkahan bulan Ramadhan. Aamiin. Kapan-kapan kita bahas apa lagi ya kira-kira?


Zahra

Dipta_edu
Dipta_edu Hanya seorang pembelajar

Post a Comment for "Tipe Santri dalam Meromantisasi Bulan Ramadhan"

Youtube