Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Assalamu'alaikum. Selamat Datang di Pondok Pesantren Nurul Iman

Mensyukuri Kesulitan dengan Kontrol Diri


Kita hidup di tengah-tengah individu yang memiliki karakter tersendiri dan diri sama sekali tidak memiliki hak untuk mengendalikan individu lain. Apa saja yang dilakukan oleh tiap individu tidak dapat kita bendung agar tidak keluar dari diri tersebut. Diri terkadang bingung, tercenung, merenung, dan kosakata lain yang sejenis, kenapa hal tersebut dapat individu lain muntahkan? Sedang menurut diri sangat tidak pantas, mengingat beberapa alasan yang telah diri pegang dengan kuat. Tanpa diri sadari, hal semacam itu terkadang menjadi penyakit yang diberi lahan cuma-cuma. Disadari atau tidak, berbagai macam dugaan menari bebas di otak dan berpotensi untuk berkembang. Dari sana terbitlah berbagai kesulitan yang terkadang menghambat, bahkan menyakitkan.

Diri ini bebas untuk mengambil apapun sampah-sampah jiwa sekitar. Bak kita melongok di tempat pembuangan akhir (TPA), kita bisa melihat berjuta sampah yang dihasilkan oleh banyak individu. Dari ribuan bahkan jutaan sampah, berbagai jenis sampah tersedia di sana. Diri bisa menemui sampah yang sudah sangat membusuk, sisa makanan, sisa sayuran di pasar, sampah kaleng, plastik, popok bayi, potongan pohon, besi yang hanya terlihat karatnya, dan masih banyak lagi, sampai terkadang hal yang menurut diri masih terpakai ada di TPA. Jika dirimu butuh kejelasan, silakan cek TPA terdekat. Dan boleh diserat di kolom komentar.

Pun pada diri manusia, memiliki sampah yang setiap saat bisa dimuntahkan kapan saja dan di mana saja. Sampah manusia bisa berupa keluhan, amarah, omongan, dan hal apapun yang ada dalam diri manusia. Sampah pada diri lain bisa menjadi sampah oleh semua diri atau masih berguna untuk sebagian diri. Sampah-sampah tersebut dikumpulkan hari demi hari. Menumpuk barang se-inchi yang tiap hari bertambah entah seberapa banyak. Mungkin tidak setiap hari membuang sampah, diri terkadang menahan semampunya. Hingga jiwa terpenuhi sampah dan muak menanggung seorang diri. Alhasil diri menumpahkan sampah tersebut, bisa di tempat yang tepat bisa pula seenak jidat.

Membuang sampah seenak jidat inilah yang terkadang menimbulkan penyakit dan mengganggu diri lain sehingga diri lain merasa sulit dan kesakitan terkena tumpahan sampah diri. Sering kali diri tidak menyadari menumpahkan sampah dan mengenai diri lain yang tengah sakit, sehingga kesulitan menjadi di diri tersebut.

sumber: img.soundofhope.org

Lalu apa yang bisa diri lakukan? Apa yang bisa diri usahakan?

Setiap diri memiliki control yang berbeda. Diri bisa mengendalikan apa yang akan diri masukkan dari tumpahan diri lain dengan yang masih ada di dalam. Sebisa mungkin berpikirlah positif agar diri tidak mudah terpapar muntahan sampah liyan. Taukah? Diri tidak bisa mengontrol apa yang akan diri lain tumpahkan, namun diri masih bisa mengontrol apapun yang masuk dalam diri. Sederhananya, diri lain boleh mengeluarkan apapun darinya, namun diri ini masih bisa menghindar atau membersihkan muntahan tersebut sehingga tidak masuk dalam diri dan tidak menjadikan virus dalam diri, syukur untuk diri lain pula.

Terkadang, rasa sakit membersihkan tumpahan diri lain membuat diri terjebak pada lubang kesulitan sehingga diri menjadi tidak terawat dan kacau. Namun, apa jadinya jika diri tidak membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitar? Diri akan semakin rentah sebab berada di lingkup yang kurang sehat. Sama halnya dengan diri, diri akan semakin kesulitan bahkan sakit ketika banyak sampah berceceran di sekitar. Maka, bersihkan sekitar cukup menjadi solusi.

Meskipun diri kelelahan dan kesulitan merawat sampah diri lain, namun terkadang dari sampah tersebut ada yang menjadi pemacu gairah diri tuk melakukan suatu hal. Apa yang diri ini angankan dari usaha, memiliki lingkungan sehat dan sampah dibuang pada tempatnya. Namun siapa sangka beberapa darinya dapat diri kantongi sebagai bekal perjalanan selanjutnya? Tidak ada yang tahu, bukan?

Nah, dari itu, syukurilah apa yang ada di sekitar diri. Meskipun tampak sulit lagi menyulitkan, diri tidak tau apa yang ada di balik semua itu. Ada banyak kejutan yang sama sekali tidak terdaftar dalam angan.

Maka, syukuri apapun yang terjadi di sekeliling diri. Sebab mensyukuri nikmat akan menghasilkan diri lebih hidup. Apalagi mensyukuri tiap kesulitan, jauh lebih nikmat dari kenikmatan yang amat nikmat. Dua kali bahkan lebih dapat diri kantongi untuk bekal perjalanan selanjutnya.

 

Inspired by story WA

Syukurilah kesulitan karena terkadang kesulitan itu mengantarkan kita pada hasil yang lebih baik dari apa yang kita bayangkan ~story wa faza

 


Dipta_edu
Dipta_edu Hanya seorang pembelajar

Posting Komentar untuk "Mensyukuri Kesulitan dengan Kontrol Diri"