Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
banner here

Mencintai dan Membenci Sewajarnya ~Gus M. Luqman

 Dianalogikan dengan pisau, pisau terlihat mengkilap namun ia bisa membunuhmu. Kita beralih ke obat, obat memiliki rasa yang tidak enak, pahit, namun bisa menjadi wasilah untuk menyembuhkan rasa sakitmu. Jangan berlebihan. Karena apa yang  saat ini kamu cintai bisa berubah menjadi benci dan apa yang saat ini kamu benci bisa menjadi sangat kamu cintai.

Dalam konteks pesantren, cinta dan benci mempengaruhi kenafi’an ilmu yang kamu miliki. Imam Zarnuji, dalam Talimal Mutalim, “Kamu bisa memiliki ilmu yang bermanfaat dari gurumu tergantung pada dua hal tersebut, cinta dan benci”.

Ketika kamu cinta dengan gurumu dan ilmunya maka akan sangat mudah untuk menerima ilmu dan kebermafaatannya. Namun jika kamu membenci salah satunya kau tidak akan mendapat ilmu ataupun kebermanfaatannya.

Maka kondisi apapun di pesantren, terimalah. Makanlah. Tidak perlu dikeluhkan. Niatkan ke pesantren untuk tabarukan, mencari ilmu, maka datang ke pesantren niatkan hanya untuk mencari ridha Allah. Terimalah apapun dari pesantren agar bisa tulus dan mendapatkan apa yang dicita-citakan.

Jika kamu mencari kesempurnaan, sejatinya kamu tidak mencari cinta sejati. Sebab, sejatinya cinta sejati mencintai kekurangan. Sealim apapun kamu, jangan pernah merendahkan martabat guru. Dalam konteks ilmu, tidak ada yang namanya mantan guru, sekali kamu sebut kata tersebut, berkuranglah kebermanfaatan ilmumu, bahkan hilang seketika.

Jika kamu manjadi santri, kamu menjadi cikal yang berbeda dengan lima syarat:

Satu, santri harus memiliki sifat tawadu’, namun ketika pulang tidak berarti berada di bawah dan diinjak-injak. Santri harus bisa menempatkan sifat tawadu’ yang benar, karena jika terlalu tawadu’ pun akan diinjak-injak. Santri juga tidak boleh terlalu keras. Karena jika terlalu keras gampang dipatahkan. Jadi harus bisa menempatkan diri.

Dua, santri harus memiliki sesuatu yang dua kali kipat. Harus jadi santri yang optimis. Jika pulang dari pesantren, tidak boleh pesimis. Namun jangan terlalu ke-PD-an. Optimis harus ditegakkan di dada. Tidak terlalu diumbar keluar.

Tiga, santri harus memiliki panggilan jiwa untuk mentasarufkan ilmu. Jika pulang dari pesantren jangan hanya diam di rumah. Harus berani menebarkan ilmu, walaupun hanya mengajarkan mengeja.

Empat, santri harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. Harus jelas apa yang akan dituju. Grade kamu harus dinaikkan oleh diri sendiri. bukan menunggu orang lain. Caranya menghargai dan menghormati orang lain. Jangan jadi santri yang plin plan. Sikap yang diambil harus tegas. Santri harus bisa merubah diri sendiri dan jangan menunggu kamu dirubah orang lain sebab jika demikian kau masih menjadi tawanan orang tersebut. Lihatlah di cermin, itulah yang akan merubahmu, merubah duniamu.

Lima, santri harus memiliki sandaran dalam berkiprah, guru. Ada kaidah al-isnadu min ad-diin. Jika kamu memiliki ilmu yang tidak memiliki sandaran, maka kelak di akhirat gurumu adalah setan. Di pondok harus ngaji yang benar. Ketika waktunya ngaji harus ikut ngaji, meskipun nagntuk. Lebih baik ngaji di tempat ngaji. Lebih barokah daripada jadwal ngaji malah tidur di asrama.

Jika lima hal ini diterapkan, anda menjadi tamyizul hashol, santri yang berbeda. Kamu memiliki Quality qontrol secara langsung oleh Allah. Doa yang kamu langitkan akan disetir secara langsung olah Allah. Sapanjang kamu melangitkan doa pada allah, sepanjang kamu mematuhi ketertiban dan keteraturan kamu melalui shalat lima waktu. Tidak perlu terlalu khawatir sebagai seorang santri.

disampaikan dalam rangkaian khotmil kutub Pondok Pesantren Nurul Iman


Dipta_edu
Dipta_edu Hanya seorang pembelajar

Posting Komentar untuk "Mencintai dan Membenci Sewajarnya ~Gus M. Luqman"

ads here
ads here